Oleh: baituzzakat | April 15, 2010

Altruisme

PARADOKS ALTRUISME

Tidaklah seseorang menjadi istimewa karena memberikan pertolongan pada saat ia mampu. Itu wajar dan memang sudah seharusnya begitu. Yang istimewa adalah ketika seseorang mampu menolong orang lain padahal ia sendiri membutuhkannya.

Tidaklah seseorang menjadi istimewa karena memberikan pertolongan pada saat ia mampu. Itu wajar dan memang sudah seharusnya begitu. Yang istimewa adalah ketika seseorang mampu menolong orang lain padahal ia sendiri membutuhkannya. Itulah ITSAR, yakni mementingkan orang lain daripada diri sendiri berkaitan dengan kebutuhan duniawi. Dalam dunia modern, hal ini disebut altruisme.

Itulah sifat umum yang dimiliki generasi salafush-shalih, Rasulullah dan para sahabatnya. Banyak sekali riwayat yang mengisahkan ketinggian sikap itsar mereka, yang akan membuat kita terharu saat membacanya.

Seorang sahabat bernama Abu Thalhah misalnya, pernah menerima tamu yang kelaparan dan bermalam di rumahnya, padahal ia tidak memiliki cukup makanan. Maka, ia pun memadamkan lampu dan membiarkan tamunya menyantap makanan, sementara ia dan istrinya hanya menghadapi piring kosong sambil berpura-pura makan. Dan semalaman itu ia dan keluarganya tidur dalam kelaparan. Karena peristiwa inilah maka Allah SWT menurunkan firman-Nya, “… Dan mereka (golongan Anshar) lebih mementingkan orang-orang lain (kaum Muhajirin) atas diri mereka walaupun mereka sendiri dalam kesulitan …” (QS 059/Al Hasyr: 9)

Al Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu Umar, seorang sahabat pernah menerima hadiah berupa kepala kambing, dan saat itu ia memang tidak punya makanan di rumahnya. Namun, Ia teringat pada tetangganya yang mengurutnya lebih membutuhkan. Maka, ia pun segera mengirimkan kepala kambing itu. Rupanya sahabat yang dikirimi hadiah itu berpikiran sama, maka ia pun segera mengirimkan kembali hadiah tersebut kepada sahabat yang lain. Begitulah seterusnya, kepala kambing itu berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain, karena masing-masing lebih mementingkan orang lain. Sampai akhirnya, setelah tujuh rumah, kepala kambing itu pun kembali kepada sahabat yang pertama kali memberikan.

Dalam perang Yarmuk, Ikrimah bin Abu Jahal (yang sudah masuk Islam) terluka parah dan kondisinya kritis. Ia pun meminta air kepada seorang sahabat. Namun, tatkala ia akan minum, ia melihat Suhail bin Amr yang juga terluka parah sedang memandangnya. Maka, Ikrimah pun berkata, “Berikanlah iar ini kepada Suhail, ia lebih membutuhkan”. Dan ketika Suhail akan meminumnya, ia pun melihat Harits bin Hisyam – yang kondisinya juga parah – tengah memandangnya. Maka, Suhail pun berkata, “Berikanlah air ini kepadanya, ia lebih membutuhkan”. Akan tetapi, belum lagi air itu sampai ke tangah Harits, ketiganya sudah meninggal.

Sikap altruistik para sahabat yang begitu tinggi juga tampak dalam perlakuan mereka terhadap tetangga dan tamu di rumah mereka. Sampai-sampai Fatimah ra berkata, “Al jaar qablad daar” (tetanggga dulu baru orang rumah). Para sahabat lain pun selalu berlomba dalam menghormati tetangga dan tamu-tamu mereka, hingga mereka merasa sedih jika tiga hari lamamya tak seorang tamu pun berkunjung ke rumahnya. Mereka yakin akan janji Allah, bahwa harta yang digunakan untuk menjamu para tamu tidak akan dihisab di hari akhir nanti.
Namun, sangat disayangkan, perilaku-perilaku altruistik seperti itu kini sudah makin langka. Seiring kehidupan duniawi yang makin individualistis, manusia pun makin terperangkap dalam sikap egoistik (ananiyah). Kepentingan pribadi adalah segala-galanya. Tak perlu pusing dengan nasib orang lain. Bahkan, bila perlu orang lain dikorbankan untuk kepentingan pribadi, demikian pemikiran sebagian orang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa melihat dengan sangat kentara betapa makin egoistiknya masyarakat kita. Jika ada kecelakaan di jalan raya, orang-orang Cuma melambatkan kendaraan, asyik menonton, dan bukannya turun untuk memberikan pertolongan. Ketika ada orang kecopetan, bukan berteriak dan menangkap pencopetnya, tapi malah menonton saja peristiwa malang itu, sambil bersyukur di dalam hati karena bukan dirinya yang jadi korban. Ketika menyaksikan seorang buta tersaruk-saruk di jalanan, tetap cuek dan malah menjauh, seolah takut tertular penyakit yang mematikan.

Tidak mau cari masalah, begitulah alasan kebanyakan orang ketika mereka menolak mengulurkan bantuan. Mereka seolah takut kalau kesenangan dan kenyamanan yang kini mereka nikmati akan hilang seiring pertolongan yang mereka ulurkan kepada orang lain. Dan mereka pun khawatir akan tertimpa sial jika menolong orang yang bernasib buruk.

Entah sejak kapan istilah “pertolongan” berubah makna menjadi “kesulitan”. Dan entah dalil darimana bahwa kebahagiaan dapat diraih dengan ketidakpedulian. Padahal, Allah SWT telah berfirman, “Kalian tidak akan memperoleh kebaikan sebelum menafkahkan sebagian dari apa yang kamu cintai.” (QS 003/Ali Imran: 92)

Setelah kita mengetahui semua ini, maka sepertinya tak ada waktu lagi bagi kita untuk melambat-lambatkan diri menjadi seorang altruis. Motivasi itu mesti segera hadir di hati kita, menghembus dalam paru-paru, dan mengalir bersama darah yang terpompa dalam setiap degub jantung kita. Caranya? Barangkali beberapa hal berikut akan membantu kita.

Pertama, kita perlu fahami bahwa kenikmatan yang kita peroleh sekarang ini adalah ujian dari Allah. Sangatlah keliru jika memandangnya sebagai bukti kemuliaan kita di tengah manusia. Sebagaimana firman Allah: “Adapun manusia, apabila Rabb-nya mengujinya, lalu memuliakannya dan memberinya kenikmatan, maka ia akan berkata ‘Rabb-ku telah memuliakanku’.” (QS 089/Al Fajr: 15)

Agar kita lulus dalam ujian tersebut, maka kita harus dapat menjawabnya dengan benar, yakni dengan bersyukur. Syukur tentu bukan hanya pekerjaan mulut, sekedar membasahi lidah dengan ucapan ‘alhamdulillah’. Syukur harus dibuktikan dalam amal sejati, diantaranya dengan berbagi. Orang yang mulia bukanlah yang nyaman nangkring di atas kendaraan seraya menonton orang kecelakaan, tapi mereka yang sanggup melepas kenyamanan demi memberikan pertolongan. Bukan pula orang yang bersyukur karena selamat dari bahaya, tapi mereka yang ikhlas membantu saudaranya yang tertimpa bencana.

Kedua, perlu juga kita fahami bahwa kebahagiaan sejati itu bukan karena memiliki, tapi justru dalam berbagi. Bisa saja kita punya banyak uang, tapi belum tentu kita bahagia, karena kebahagiaan tak dapat dibeli dengan uang. Kita bisa saja menyantap makanan sebanyak yang kita inginkan, tapi jangan pikir kita akan bahagia karena banyak makan, bisa-bisa kita malah menderita kalau kekenyangan. Kita mungkin senang karena menduduki jabatan tinggi, tapi itu pun belum tentu mendatangkan bahagia, malah was-was jika pensiun sudah di depan mata. Lantas dimana kebahagiaan itu? Kebahagiaan sejati adalah ketika kita mampu membahagiakan orang lain….

Inilah paradoks altruisme. Ketika kita mengulurkan bantuan kepada orang lain, seolah kita sendiri yang memperoleh bantuan. Ketika kita berusaha memecahkan persoalan orang lain, maka pada saat bersamaan masalah kita sendiri akan terpecahkan tanpa kita ketahui bagaimana hal itu terjadi. Dan ketika berusaha membahagiakan orang lain, maka tiba-tiba hati kita akan terasa ringan, dan kebahagiaan pun akan meluap dalam hidup kita.

Dan ketiga, dari berbagai penelitian tentang perkembangan psikologis manusia, dapat kita ketahui bahwa kematangan seseorang dicirikan dengan pemahamannya tentang makna berbagi dan kesanggupannya melakukan tindakan-tindakan altruistik. Dengan kata lain, altruisme adalah ciri sikap orang dewasa. Dan sebagai lawannya, egoisme, adalah sikap kanak-kanak. Jadi, meskipun usia sudah tua, tapi kelakukan masih egois dan tidak peduli terhadap orang lain, maka sesungguhnya ia masih kanak-kanak. Alangkah malunya jika kita dicemooh ‘kayak anak kecil’. Dan jika kita tidak ingin mendapatkan cemoohan seperti itu, maka segeralah kita berubah menjadi seorang altruis!

R. ISMAIL PRAWIRA KUSUMA S. Sos. I
Karawang, 23 Maret 2010 M/7 Rabi’ul akhir 1431 H

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: