Oleh: baituzzakat | Oktober 8, 2009

Menguak Makna Dibalik Gempa

Inna lillahi wainna ilaihi roji’un…

Untuk kesekian kalinya gempa kembali mengguncang persada Nusantara. Setelah Tasikmalaya (Jawa Barat) porak poranda pada awal September lalu, kali ini Sumatera Barat dan Jambi yang mendapat giliran. Gempa sebesar 7, 6 skala Richter  menggoyang kota Padang Pariaman dan sekitarnya pada hari Rabu, 30 September 2009, dan sehari sesudahnya, goncangan sebesar 7 skala Richter menggeliatkan tanah Jambi.

Sampai saat ini, lebih dari 500 orang telah tewas, ratusan lainnya luka-luka dan banyak lagi yang masih belum ditemukan, sementara ribuan orang lainnya masih trauma di pengungsian karena tempat tinggal mereka porak poranda, bahkan ada yang sampai rata dengan tanah. Jerit tangis para korban pun terus menggaung, seolah ingin merobek dada langit. Air mata tak lagi tertahan, sementara tangan tak lagi mampu menyeka.

Kenapa ini terjadi? Kenapa harus di negeri ini? Kenapa musibah ini datang bertubi-tubi?

Itulah diantara pertanyaan-pertanyaan yang menggelayuti pikiran kita, terutama mereka yang menjadi korban gempa. Memang, datangnya bencana tak akan terasa menyenangkan bagi yang mengalaminya. Waktu tersita, tenaga terkuras, harta benda pun musnah tak tersisa. Keamanan dan kenyamanan pun untuk sementara akan sulit dirasakan. Namun, bagi para hamba Allah, ini bukan alasan untuk lupa berdzikir kepada-Nya. Sebaliknya, bencana justru menjadi momentum yang sangat baik untuk mendekatkan diri kepada sang Khaliq, seraya  merenungkan hikmah di balik peristiwa tersebut.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (QS 003/Ali Imran: 190-191)

Kaitannya dengan gempa ini, ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik, diantaranya:

  1. Lemahnya manusia

“… Dan manusia telah diciptakan bersifat lemah.” (QS 004/An Nisaa: 28)

Inilah salah satu hakikat penciptaan manusia, yakni bahwa mereka itu lemah. Hanya Allah SWT-lah yang Mahakuat. Namun, hakikat ini justru sering dilupakan manusia. Dengan kebodohannya, banyak manusia yang justru menganggap diri mereka kuat, sehingga mereka pun berlaku sombong dalam hidupnya, baik kepada sesamanya, alam lingkungannya, bahkan kepada Rabb yang telah menciptakannya.

Atas dasar rahmat-NYA, Allah SWT pun berkehendak mengingatkan mereka akan hakikatnya. Maka, diturunkanlah musibah kepada manusia, diantaranya dalam bentuk gempa bumi. Dia jungkirbalikkan pandangan manusia tentang dirinya, harta bendanya, dan alam lingkungannya. Ketika gempa mengguncang, mereka pun melolong ketakutan. Mereka berlari panik. Tapi, kaki malah mematung; badan pun limbung. Tanah yang selama ini tunduk di bawah kaki kini berontak seolah tak lagi sudi menjadi pijakan. Mereka pun ambruk dengan wajah tertelungkup. Harta benda ternyata tak mampu memberi pertolongan, bahkan sebaliknya menjadi ancaman perenggut nyawa. Rumah yang menjadi tempat kenyamanan pun kini berubah seolah menjadi neraka penyiksaan; dindingnya roboh menindih mereka, dan atap tempat berteduh pun malah jatuh menimbun mereka.

Siapa yang sanggup memberikan pertolongan pada saat itu? Tak ada, kecuali Allah SWT semata. Dialah yang Mahakuat, Dialah yang mengijinkan semua itu terjadi, dan hanya kepada-NYA-lah hendaknya manusia memohon petunjuk. “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”  (QS 064/At Taghabun: 11)

  1. Pesan Ilahi

Peristiwa gempa yang berulang kali terjadi tentu bukan sebuah kebetulan. Banyak pesan Allah yang dapat kita kuak di dalamnya. Dan jika kita kembali kepada Al Qur’an, maka gempa yang berurutan itu ternyata mengandung rangkaian pesan Allah yang sangat jelas.

Pertama, gempa Tasikmalaya, terjadi pada pukul 14. 44 wib. Maka, jika kita buka Al Qur’an Surat Ibrahim (14) ayat 44 akan kita temukan pesan Allah SWT sebagai berikut: “Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, Maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan Kami, beri tangguhlah Kami (kembalikanlah Kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya Kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul”. (kepada mereka dikatakan): “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?”

Kedua, gempa Sumatera Barat terjadi pada pukul 17. 16 wib, yang bersesuaian dengan pesan Allah dalam Al Qur’an Surat Al Isra (17) ayat 16: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya Berlaku terhadapnya Perkataan (ketentuan kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Ketiga, gempa susulan yang paling besar setelah gempa utama yang mengguncang Sumatera Barat terjadi pada pukul 17. 58 ternyata menguak pesan Allah dalam Al Qur’an Surat Al Isra (17) ayat 58 yang berbunyi: “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).”

Dan keempat, gempa Jambi yang terjadi pukul 8. 52 juga mengandung pesan Allah dalam Surat Al Anfal (8) ayat 52: “(keadaan mereka) serupa dengan Keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. mereka mengingkari ayat-ayat Allah, Maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Amat keras siksaan-Nya.”

Itulah pesan-pesan Allah SWT lewat musibah ini. Secara singkat, semuanya mengingatkan kita agar segera kembali kepada Allah SWT, dengan menanggalkan kesombongan, kezaliman,  dan bermegah-megahan dengan dunia yang telah membuat kita lupa kepada Allah SWT. Dan secara lebih istimewa, pesan ini tampaknya Allah SWT tujukan kepada para wakil rakyat, yang pada waktu bersamaan dengan gempa tersebut (tanggal 1 Oktober 2009), melaksanakan acara pelantikan dalam sebuah acara yang superwah, dengan menghabiskan dana sebesar Rp 46 milyar, dan itu semua adalah uang rakyat! Subhanallah…

R. ISMAIL PRAWIRA KUSUMA S. Sos. I

Karawang,   17 Syawal 1430 H/6 Oktober 2009 M

Iklan

Responses

  1. Wah artikel yang menyejukkan mas! Kami di Sumbar memang butuh “hikmah-hikmah” seperti ini dalam menghadapi kejadian besar seperti tersebut…Terimakasih!

  2. nuhun o atas postingnya yg menarik…
    kenalkan saya Agus Suhanto

  3. Assalamualaikum…..
    Salam ta’aruf buat Agus Suhanto……..
    Semoga media ini bisa menjadi media silaturahim dan berbagi ilmu untuk semuanya….

    Ditunggu saran dan kritiknya untuk Baituzzakat Adzikro Karawang, Agar kami bisa melayani masyarakat dengan amanah dan tanggungjawab.
    Wassalamualaikum…

  4. Assalamualaikum ….
    Salam ta’aruf untuk efrialdy di sumbar….

    Semoga bisa menjadi hikmah buat kita semuanya….dan selalu menjadi pengingat untuk kita semua akan kebesaran Allah SWT agar senantiasa kita selalu bersyukur. Amiin Ya robb.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: