Oleh: baituzzakat | Juli 10, 2009

TIMBANGAN ILAHIAH TENTANG KEMULIAAN

Manusia adalah makhluk Allah yang sangat unik. Dia berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain; tumbuhan, hewan, jin, dan juga malaikat. Di satu sisi, manusia adalah makhluk bumi, karena tubuhnya tercipta dari tanah liat yang kering, sebagaimana firman Allah: “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,” (QS 015/Al Hijr: 26). Tapi, dia juga makhluk langit, karena inti kehidupannya adalah ruh yang berasal langsung dari Allah, sebagaimana firman-Nya: “Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh-Ku…” (QS 015/Al Hijr: 29)

Dengan tubuh yang tercipta dari tanah, manusia merasa nyaman dan pantas tinggal di muka bumi, demi menjalankan tugasnya sebagai khlifah (wakil) Allah. Dan dengan ruh di dalam dirinya, ia akan dapat menjaga kemuliaan kedudukanya sebagai makhluk langit, tidak terjerumus ke dalam rendahnya kehidupan duniawi.

Namun, ada diantara manusia yang tak menyadari hal ini. Banyak dari manusia yang malah terperangkap dalam prinsip materialisme yang menggerakkan kehidupan duniawi. Materi (kebendaan) telah menjadi ukuran untuk menilai segala sesuatu, sementara ruh yang suci tidak lagi diikutsertakan dalam menimbang kehidupan, dan dalam menjalani pergaulan dengan sesama manusia.

Lihatlah diri kita… Betapa bangganya ketika kita bisa duduk bersama seorang pejabat, tapi malu ketika berada di samping orang cacat… Betapa bergegasnya kita ketika diundang ke rumah orang kaya, tapi mengabaikan saja ketika si miskin yang mengundang … Kita pun merasa mulia dengan harta yang kita miliki, tapi tidak merasa hina ketika akhlaq jauh dari terpuji… Itulah jebakan materialisme!

Sebagai seorang muslim, kita tak pantas melakukan itu. Islam telah menetapkan prinsip pergaulan yang lebih bermartabat dan lebih tinggi nilainya daripada timbangan kebendaan yang rendah.

Konsep Al Qur’an tentang kemuliaan manusia

“… Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa…” (QS 049/Al Hujuraat: 13)

Inilah prinsip utama dalam menimbang kemuliaan manusia. Inilah satu-satunya nilai dan tolok ukur untuk menilai dan mengukur bermartabat atau tidaknya seorang manusia. Prinsip ini membebaskan manusia dari perangkap materalisme yang rendah menuju timbangan Ilahiah yang hakiki dan tinggi.

Orang yang paling bertakwa di sisi Allah ialah orang yang berhak mendapatkan penghormatan, perlindungan, dan perhatian, meskipun ia lepas dari semua pertimbangan dan pemikiran lain, yang dikenal manusia di bawah tekanan realitas duniawi, dan norma-norma yang mereka sepakati. Nasab (keturunan), kekuatan, harta, dan semua tata nilai lainnya tidak ada bobotnya apabila lepas dari iman dan takwa.

Peringatan untuk Rasulullah

Prinsip ini begitu penting dalam Islam, bahkan menjadi puncak dari semua ajaran Allah tentang tata nilai kehidupan manusia. Jika tidak, tak mungkin Allah menegur Rasul-Nya yang mulia dengan sangat keras, ketika datang kepadanya seorang tunanetra (Abdullah ibn Ummi Maktum), lalu Rasulullah mengabaikannya karena sedang berbicara dengan para pembesar Quraisy. Firman Allah: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang tunanetra kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padalaal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)!Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan…” (QS 080/’Abasa: 1-12)

Dimanakah Rasulullah berada saat itu? Bagaimana keadaannya? Di Mekah, Beliau tengah melakukan dakwah dengan mengendap-endap, jumlah kaum muslimin minoritas, dan Islam belum lagi diterima dengan baik oleh penduduk Mekah. Sementara, tindakan Rasulullah melayani pembesar-pembesar Quraisy itu tidaklah didorong oleh kepentingan pribadi, dan sikap tidak menghiraukan lelaki tunanetra yang fakir itu pun tidak dimotivasi oleh pertimbangan pribadi, melainkan untuk kepentingan dakwah… Tapi, Allah tetap menegurnya…

Rupanya Allah ingin menegaskan  bahwa agama ini adalah milik Allah, aturan hidup ini adalah bersumber dari Allah. Karenanya, Islam tidak boleh didakwahkan dengan mengikuti pertimbangan manusia, tapi ia justru datang untuk menetapkan timbangan dan nilai Ilahiah yang hakiki di dalam kehidupan manusia. Maka, ia tidak akan menjadi kokoh dan kuat, serta memperoleh kemenangan kecuali dengan ditetapkannya timbangan dan nilai-nilai ini.

Kembali ke timbangan Ilahiah

Peringatan itu benar-benar ditujukan kepada Rasulullah yang mulia. Dan karena kemuliaannya, tak mungkin peringatan itu remeh nilainya. Itu pasti sesuatu yang sangat agung, yang merupakan hakikat dari risalah yang diembankan  kepadanya.

Hakikat ini bukan semata-mata bagaimana seseorang bermuamalah dengan orang lain, atau bagaimana sekelompok orang bergaul dengan kelompok lain, sebagaimana tampak dari peristiwa yang menjadi sebab turunnya wahyu tersebut. Akan tetapi, hal itu benar-benar lebih jauh dan lebih besar. Hakikatnya ialah bagaimana manusia menimbang semua urusan kehidupan, dan dari sumber mana mereka mengembangkan dan menentukan nilai-nilai yang mereka pergunakan untuk melakukan pertimbangan itu. Hakikat yang menjadi sasaran penetapan ini ialah manusia di bumi harus mengembangkan tata nilai dan tata norma mereka dengan semata-mata ber­pedoman pada kalimat Ilahi dari langit (wahyu), tidak terperangkap oleh realitas kebendaan yang melingkungi mereka, dan tidak bersumber dari pemikiranpemikiran mereka yang sudah terikat dengan tempat hidup mereka.

“… Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa…”, bukan yang paling kaya, paling berpangkat, paling kuat, paling tampan, dan timbangan-timbangan duniawi lainnya.

Melepaskan diri dari timbangan-timbangan duniawi, untuk kemudian kembali kepada rimbangan Ilahiah, tak pelak lagi merupakan keniscayaan jika manusia ingin mencapai kemuliaan di hadapan Allah. Hal ini memang sangat berat dan sulit, karena selama ini manusia sudah terbiasa dengan pandangan-pandangan materalistis, yang bahkan telah ditetapkan sebagai norma-norma, tradisi, budaya, bahkan hukum positif yang mereka buat atas nama kemanusiaan. Namun, harus kita ingat bahwa semua itu hanyalah bersifat sementara… “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. dan Sesungguhnya Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 016/An Nahl: 96)

R. ISMAIL PRAWIRA KUSUMA S. Sos. I

Karawang,  15 Juni 2009 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: