Oleh: baituzzakat | Juli 10, 2009

MENEMPUH JALAN QANAAH

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya …” (QS 011/Huud: 6)

Demikianlah jaminan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Bagi orang yang beriman, ayat ini bukan hanya menumbuhkan perasaan TENANG di dalam hati – karena yakin akan janji Allah –, tapi juga akan melahirkan sifat QANA’AH dalam dirinya, yakni merasa cukup dengan karunia Allah. Ia akan takut untuk merasa kekurangan, karena dengan begitu berarti ia telah melupakan karunia Rabb-nya. Ia pun merasa malu untuk meminta kepada sesama, karena itu menunjukkan bahwa ia ragu terhadap janji Allah. Firman Allah SWT: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang yang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak… (QS 002/Al Baqarah: 273)

Namun, tidak semua orang berlaku seperti itu. Karena lemahnya keyakinan terhadap janji Allah, banyak orang yang selalu merasa kuatir akan kelangsungan hidupnya. Pada saat bersamaan, hawa nafsu pun terus beraksi, mendesak manusia hingga terjerumus ke dalam kemilau semu kehidupan dunia. Harta yang dimiliki masih saja kurang. Hidup pun terancam. Hari esok tampak begitu suram. Mereka mencoba melepaskan diri dari bayang-bayang ketakutan itu dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, meskipun harus mengorbankan kehormatan diri. Anehnya, makin diburu, dunia malah makin jauh dari genggaman. Kecukupan tak pernah tercapai, sebaliknya rasa tak puas makin menjadi-jadi. Karena memang begitulah sifat dunia; ibarat air laut, diminum malah menambah haus…! Demikian meruginya orang yang dibutakan oleh dunia. Ia meninggalkan yang pasti, dan mengejar-ngejar dunia yang semu dan sementara.

Nah, agar kita terhindar dari kerugian itu, maka tak ada jalan lain kecuali mulai membiasakan diri bersikap qana’ah. Diantaranya dengan membiasakan sikap-sikap berikut ini:

1. Tidak mengadukan kesusahan hidup kepada sesama manusia

    Allah SWT telah menciptakan manusia, lalu memilih yang terbaik dari mereka melalui mekanisme ujian. Tak ada seorang manusia pun yang lepas dari ujian hidup. Allah SWT Yang Mahatahu telah menyesuaikan berat atau ringannya ujian tersebut dengan kemampuan hamba-Nya. Dan datangnya ujian itu bisa jadi karena Allah “rindu” mendengar rintihan si hamba untuk memohon belas kasihan-Nya.

    Karenanya, tidak halal seorang manusia yang diuji dengan kesusahan, lalu mengadukan kesusahannya itu kepada sesama manusia. Apalagi jika hal itu ditujukan untuk menarik belas kasihan orang lain, dan akhirnya orang yang mendengarnya memberi sesuatu untuk menolongnya. Perbuatan ini sangat tidak pantas, karena hanya Allah-lah yang dapat memberi pertolongan, bukan manusia. Sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan tertutupi. Tetapi, barangsiapa mengadukannya kepada Allah maka Allah segera memberikan rizki kepadanya, cepat atau lambat.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi, dia berkata: “Hadits Hasan”)

    Ada juga orang yang dengan fasih menceritakan kesusahannya kepada orang lain, dengan niat agar orang menganggapnya miskin, sehingga tidak ada yang meminta bantuan kepadanya. Sikap seperti ini tentu lebih tercela lagi, karena ia benar-benar telah mengingkari nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya.

    Seorang Qani’ (orang yang menerapkan sikap qana’ah) akan berusaha menyembunyikan kesusahan hidupnya, dan menjadikannya sebagai rahasia antara dirinya dengan Allah saja. Sebaliknya, jika ia mendapatkan kenikmatan, ia justru akan menceritakan dan membagikannya kepada orang lain; bukan karena sombong, melainkan karena syukurnya kepada Allah. Allah berfirman: “dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (QS 093/Adh Dhuhaa: 11)

    2. Tidak mengemis kepada sesama manusia

      Mengemis adalah perbuatan yang tercela. Karena, seperti telah tersebut di atas, Allah telah menjamin rizki seluruh hamba-Nya. Jaminan tersebut harus diperoleh dengan cara yang benar, yaitu dengan ikhtiar secara optimal, dengan memanfaatkan seluruh potensi yang telah Allah berikan. Islam sama sekali tidak memandang baik orang yang melakukan metode “potong kompas” dalam menjemput rizki dengan mengemis. Bahkan, Rasulullah mengancam para pengemis dengan sabdanya: “Tidak henti­hentinya permintaan dilakukan oleh salah seorang kamu sehingga nanti dia akan bertemu Allah dalam keadaan tidak ada sepotong dagingpun di wajahnya.” (HR Bukhari – Muslim)

      Seorang qani’ tidak akan mau mengemis kepada sesama manusia, meski kesulitan hidup terus menderanya. Dia akan memelihara kehormatan dirinya dengan ikhtiar secara optimal, sementara hatinya yakin bahwa Allah telah menyediakan rizki untuknya di bawah cucuran keringatnya. Dan ia akan tetap bersyukur atas hasil ikhtiarnya, meski sedikit jumlahnya, karena di dalamnya terkandung keberkahan yang lebih berharga daripada segunung emas yang dihasilkan dari meminta-minta. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menjaminkan dirinya kepadaku untuk tidak meminta sesuatupun kepada sesama manusia maka aku menjamin surga untuknya.”  (HR Abu Daud dengan sanad shahih)

      3. Tidak membiasakan berutang dalam memenuhi kebutuhan hidup

        Berutang memang diperbolehkan dalam Islam, dan termasuk ke dalam sikap ta’awun (tolong menolong). Namun, membiasakan diri berutang tentu bukan sikap yang bijak. Apalagi jika tidak yakin bahwa dirinya mampu membayar utang tersebut.

        Di zaman ini, berutang tampaknya sudah menjadi tren atau gaya hidup. Orang berutang bukan lagi karena kebutuhan, tapi lebih untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. “Biar tekor asal nyohor,” begitu mereka bilang.  Yang juga mengherankan, saat ini seseorang baru disebut kaya kalau banyak utangnya (baca: banyak kartu kreditnya). Dan para pemberi piutang pun lebih suka memberi utang kepada orang kaya yang berkelebihan daripada orang miskin yang hidupnya kesulitan. Sampai-sampai ada yang bilang bahwa orang kaya adalah orang yang “makin banyak utang, makin nyenyak tidurnya“. Aneh!

        Kondisi ini jelas bertentangan dengan prinsip hidup qanaah. Seorang qani’ tidak   perlu berutang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, meski penghasilannya pas-pasan. Ia yakin, Allah memberi sesuai dengan kebutuhan, dan Allah tidak pernah salah dalam menilai kebutuhan manusia. Dengan keyakinan ini, ia akan hidup dengan sikap menengah, tidak boros yang membuatnya akan terus berutang, dan tidak pelit yang membuatnya tidak bermanfaat. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS 025/Al Furqan: 67)

        Itulah beberapa sikap yang ditunjukkan oleh seorang qani’. Siapapun yang melakukannya maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Jiwanya tenang, karena yakin kepada janji Allah; hidupnya tenteram, karena berada dalam jaminan Allah; Hatinya tidak pernah diam melainkan senantiasa berucap: Hasbiyallahu wani’mal wakiil, ni’mal maulaa wani’man nashiir…” (Cukuplah Allah untukku dan sebaik-baik yang mengurusi, sebaik-baik majikan, dan sebaik-baik penolong…)

        R. ISMAIL PRAWIRA KUSUMA S. Sos. I

        Karawang,  30  Juni 2009 M

        Iklan

        Tinggalkan Balasan

        Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

        Logo WordPress.com

        You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

        Gambar Twitter

        You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

        Foto Facebook

        You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

        Foto Google+

        You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

        Connecting to %s

        Kategori

        %d blogger menyukai ini: