Oleh: baituzzakat | Mei 18, 2009

JANGAN MENUNDA BERZAKAT

Menunda-nunda, tak pelak lagi merupakan salah satu sifat buruk yang banyak menghinggapi manusia. Kaum muslimin pun ternyata tak kebal dari virus ini, padahal Allah SWT telah berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS 003/Ali Imran: 133) Banyak dari kita yang masih suka menunda-nunda kewajiban agama, seperti mengeluarkan zakat, meski semua syarat wajibnya, yakni nishab dan haul, telah terpenuhi. Dalam zakat profesi misalnya, jarang sekali seseorang yang penghasilannya telah mencapai nishab langsung menyisihkan 2,5% dari penghasilannya begitu mereka terima. Mereka biasanya langsung membawa uang tersebut ke pasar atau ke mal, membeli ini dan itu – yang terkadang tak terlalu penting –, sementara zakat — yang merupakan hak Allah – mereka taruh entah nomor berapa. Tak disangsikan lagi bahwa sikap menunda-nunda adalah sikap yang merusak. Berapa banyak kebaikan yang seharusnya terjadi di tengah masyarakat terhambat karena sikap ini. Berapa banyak keberkahan yang semestinya diperleh akhirnya luput karenanya. Dan, bisa dipastikan bahwa sikap ini muncul karena si pelakunya menganggap tidak penting, atau bahkan meremehkan, perintah Allah. Bukan tidak mungkin pada stadium lanjut orang seperti ini akan berani meninggalkan sama sekali kewajiban tersebut. Oleh karena itu, sikap ini mutlak harus ditinggalkan sebelum bertambah parah. Dan bagi mereka yang masih suka menunda-nunda zakat, maka pikirkanlah beberapa hal berikut ini: Pertama : Pikirkanlah, bagaimana jika Allah SWT memanggil kita sementara kita belum berzakat? “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati…” (QS 031/Luqman: 34) “Dimana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu…” (QS 004/An Nisaa: 78) Kematian adalah rahasia Allah. Dia pasti akan datang, namun kita tidak pernah tahu kapan, dimana, dan dalam keadaan seperti apa hal itu terjadi. Seorang bijak pernah berkata bahwa kematian itu seperti buah kelapa; baik yang masih muda maupun yang sudah tua, semuanya bisa jatuh dari tempatnya. Kita hanya diperintahkan untuk bersiap diri menghadapinya. Kematian tidak akan menakutkan, bahkan akan menjadi momen yang sangat menyenangkan ketika kita sudah memiliki bekal amal soleh yang cukup. Hak-hak Allah sudah kita tunaikan, dan tak ada pula hak-hak Adami yang masih mengikat kita. Tapi, alangkah ruginya kita ketika malaikat maut hadir sementara masih ada harta yang belum dizakati, atau kewajiban-kewajiban lain yang belum dipenuhi. Tak ada waktu lagi untuk berkelit. Pintu taubat pun sudah tertutup. Kita hanya bisa menanti sampai tiba saat kita mempertanggungjawabkan semua amal di hadapan Allah. Dan pastinya, penantian seperti itu bukanlah penantian yang menyenangkan. Firman Allah: “… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS 009/At Taubah: 34-35) Sungguh mengerikan ancaman Allah itu! Oleh karena itu, tak ada jalan lain untuk menghindarinya kecuali dengan bersegera melaksanakan perintah-Nya dan tidak menunda-nunda lagi. Segeralah tunaikan zakat saat ini juga, karena kita tidak pernah menyangka mungkin setelah membaca risalah ini malaikat maut akan datang menjemput kita… Kedua: Pikirkanlah, bagaimana jika Allah SWT menunda-nunda memberi rizki kepada kita? Bayangkan, bagaimana jika saat ini Allah menunda (baca: menahan) napas kita, atau denyut jantung kita, atau menyumbat paru-paru kita? Oksigen akan terhenti, pembuluh darah akan membeku, dan akibatnya… Atau, bayangkan hal yang lebih reme dari itu. Bayangkan, bagaimana jika Allah menahan kelopak mata kita sehingga tidak bisa berkedip, atau menyumbat saluran pembuangan kita hingga (maaf) tidak bisa buang angin? Atau, bayangkanlah hal yang lebih riil. Bagaimana jika gaji bulanan tidak turun tepat waktu? Atau piutang yang jatuh tempo tidak juga dibayar? Semua itu tentu tidak menyenangkan. Siapapun yang mengalaminya pasti akan merasa tersiksa. Nah, demikian pulalah nasib fakir miskin yang rizkinya Allah titipkan dalam harta kita. Mereka pun akan terhimpit dalam kesulitan. Dapur mereka tidak akan “ngebul”, anak-anak mereka tidak bisa bersekolah, dan boleh jadi mereka akan tertimpa kelaparan. Padahal sebenarnya rizki mereka telah Allah berikan, yakni dalam kelebihan yang dititipkan kepada kita. Artinya, kitalah – sebagai distributor rizki Allah – bertanggung jawab atas kehidupan fakir miskin itu. Kelangsungan hidup mereka telah Allah amanatkan kepada kita. Dan jika kita menunda-nundanya, atau melalaikannya, maka itulah kejahatan kemanusiaan yang sebenarnya. Sungguh, Allah tidak pernah menahan menunda-nunda rizki kita. Dan karenanya, kita pun tidak boleh menunda-munda rizki orang lain yang Allah titipkan kepada kita. Ketiga: Pikirkanlah, bagaimana jika kita ditawari sebuah lahan investasi yang sangat prospektif, lalu kita menunda-nunda ikut menanamkan modal di dalamnya? Jawabannya jelas, kita akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Boleh jadi kita sudah diserobot oleh orang lain yang lebih mampu melihat peluang itu. Kalaupun akhirnya kita bisa ikut serta, maka keuntungannya tidak terlalu besar, karena telah dihabiskan oleh para pemodal pertama. Nah, itu baru investasi dunia. Lalu, bagaimana dengan zakat yang merupakan investasi akhirat? Tidakkah kita lebih tergiur oleh keuntungannya yang jauh lebih besar sebagaimana yang Allah janjikan: “perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji…” (QS 002/Al Baqarah: 261) Subhanallah…tak ada investasi yang keuntungannya mencapai 700 kali lipat (7, 000 %). Tapi, ini pun ternyata belum seberapa sebagaimana Allah melanjutkan firman-Nya: “… Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS 002/Al Baqarah: 261) Demikian keuntungan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang bersegera berinfaq di jalan Allah. Keuntungan yang menggiurkan. Nah, dengan semua ini, masihkah kita tergoda untuk menunda-nuda zakat?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: