Oleh: baituzzakat | Mei 5, 2009

Kilas Kegiatan

highligt-komunita-Juni

highligt-komunita-mei

highligt-komunita-april

program-cicilan-qurban-aqiqah

Iklan
Oleh: baituzzakat | April 15, 2010

Altruisme

PARADOKS ALTRUISME

Tidaklah seseorang menjadi istimewa karena memberikan pertolongan pada saat ia mampu. Itu wajar dan memang sudah seharusnya begitu. Yang istimewa adalah ketika seseorang mampu menolong orang lain padahal ia sendiri membutuhkannya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: baituzzakat | Oktober 20, 2009

BERSEDEKAHLAH, WAHAI PARA WANITA…..!!!

Pernahkah Anda berdagang mendapat keuntungan sepuluh kali lipat? Alangkah bodohnya kita jika menolak mendapat keuntungan tujuh ratus kali lipat! Baca Lanjutannya…

Oleh: baituzzakat | Oktober 8, 2009

Menguak Makna Dibalik Gempa

Inna lillahi wainna ilaihi roji’un…

Untuk kesekian kalinya gempa kembali mengguncang persada Nusantara. Setelah Tasikmalaya (Jawa Barat) porak poranda pada awal September lalu, kali ini Sumatera Barat dan Jambi yang mendapat giliran. Gempa sebesar 7, 6 skala Richter  menggoyang kota Padang Pariaman dan sekitarnya pada hari Rabu, 30 September 2009, dan sehari sesudahnya, goncangan sebesar 7 skala Richter menggeliatkan tanah Jambi.

Baca Lanjutannya…

Isi Ramadhan tahun ini dengan kegiatan penuh makna bersama Baituzzakat Adzikro Baca Lanjutannya…
Oleh: baituzzakat | Juli 29, 2009

Kisah Menarik, Inilah Hajiku…

Ini merupakan kisah yang membuat saya berkali kali tertarik untuk membacanya dan berkali kali juga menitikkan air mata..semoga bermanfaat dan menjadikannya cerminan bagi kita semua, Amien…)

Ada seseorang yg ingin menunaikan ibadah haji yg ke-3 kalinya, beliau merasa bimbang karena mendengar pendapat ulama bahwa kewajiban haji hanya satu kali, maka ia bertanya pada seorang ustadz. Ustadz tsb memohon maaf karena ia tidak bisa menjawab secara fikih tapi ia menceritakan sebuah kisah:

Dahulu pd jaman Tabi’in ada seorang ulama terkenal yg bernama Abdullah bin Mubarrak yang sedang menunaikan ibadah haji, setelah beliau selesai menunaikan seluruh syarat dan rukun haji beliau tertidur di tepi telaga zamzam, lalu dalam mimpinya beliau mendengar percakapan dua malaikat yg memperbincangkan bahwa dari sekitar 500 ribu orang yang mengerjakan ibadah haji tahun ini tidak ada seorang pun yang mabrur, tapi karena keikhlasan seorang hamba Allah yg bernama Muwaffaq, seorang tukang sepatu dari Baghdad, seluruh ibadah haji umat Islam pada tahun ini menjadi mabrur dan diterima oleh Allah SWT.

Abdullah tersentak bangun dari tidurnya, dan ia yakin bahwa ini bukan mimpi biasa maka pada hari itu juga beliau berangkat ke kota Baghdad dgn perjalanan tempuh selama berbulan bulan dan mengarungi padang pasir yg panas, akhirnya sampailah beliau di kota Baghdad.
Kedatangan beliau telah diketahui oleh masyarakat Baghdad karena beliau adalah seorang ulama terkenal, sesampainya disana setelah melakukan shalat sunnat dua rakaat beliau segera mencari dan bertanya kepada jamaah yg hadir apakah mereka mengetahui seorang tukang sepatu yg bernama Muwaffaq.Maka mereka pun menunjukkan rumahnya.

Sesampainya dirumah Muwaffaq, Abdullah bin Mubarrak langsung memeluknya, dan berkata, “ Duhai engkaulah yg menyelamatkan ibadah haji kami pada tahun ini.Amalan apakah yang engkau kerjakan sehingga Allah SWT tidak hanya ridha kepada Engkau tapi juga ridha kepada ibadah haji kami?”
Muwaffaq tertunduk diam. Tiba tiba ia berkata dengan suara tersekat, “ Alhamdulillah ya Allah, ternyata engkau terima juga hajiku akhirnya.” Air matanya mengalir dengan isak tangis kebahagiaan.
Abdullah dan seluruh rombongan yg hadir pada saat itu tidak mengerti mengapa Muwaffaq menangis bahagia.
Setelah tangisnya reda Muwaffaq bercerita..

“Sudah puluhan tahun saya rindu untuk menunaikan ibadah haji, begitu menggebu gebunya sampai terbawa mimpi, teramat sering saya bermimpi untuk dapat mencium hajar Aswad dan tawaf mengelilingi Ka’bah. Namun karena pekerjaan saya hanyalah seorang tukang sepatu saya hanya dapat mengumpulkan rejeki sedikit demi sedikit dan saya tabungkan hari demi hari.
Kemudian ia melanjutkan..

“Setelah sepuluh tahun menabung, pada suatu hari saya merasa bahwa uang itu sudah cukup untuk membawa saya pergi haji, dengan semangat yang menggebu gebu dan hati gembira dan berbunga bunga,saya ingin segera menyampaikan hasrat saya kepada istri saya.Ketika itu istri saya sedang hamil muda. Namun baru saja saya sampai didepan pintu, istri saya menyambut saya seraya berkata, “ Wahai suamiku syukurlah engkau sudah sampai. Dari tadi siang aku mencium bau masakan yang sangat enak, pergillah mintakan sedikit untukku. Rasanya aku mengidam masakan itu. Cepatlah suamiku, aku sudah tidak sabar untuk menikmati masakan itu.

“ Permintaan istri tercinta mngurungkan niat saya untuk bercerita tentang hasrat saya utk segera berhaji. Saya segera mengambil wadah dan keluar rumah mencari dimana bau masakan itu berasal. Hingga akhirnya saya sampai di rumah tua. Saya mengetuk pintu dan mengucapkan salam setelah menunggu sejenak, keluarlah seorang anak perempuan yang berusia sekitar 15 tahun. Wajahnya pucat dan lemah. Saya agak ragu apakah benar ia yang memasak masakan itu.
“ Wa alaikum salam.Ada apa paman?”, ia berkata dengan suara lirih.
Maka saya bercerita maksud saya mendatangi rumahnya, dan saya memohon padanya agar bisa memberi sedikit masakannya dan menggantinya dengan sedikit uang.
Gadis itu terdiam dan berlinang air mata sambil berkata, “ Maafkan saya, paman. Sebenarnya daging yang saya masak itu halal bagi kami tapi haram bagi paman.”
Saya langsung heran dan bertanya mengapa demikian?

Lalu gadis itu kembali berkata, “ Paman di rumah ini ada tiga anak yatim piatu. Saya dan dua adik saya yg masih kecil. Sejak orang tua kami meninggal nasib kami sangat sengsara. Ini hari ketiga kami menahan lapar.Adik adik saya sudah tidak sanggup lagi menangis dan mereka sudah tidak bersuara karena kelaparan, saya khawatir mereka meninggal, dan saya pun keluar mencari cari kalau-kalau ada yang ingin bersedekah.
“ Setelah berjalan cukup lama dan tubuh saya melemah, tidak ada juga yang mau menyisihkan makanan untuk kami, dalam keadaan seperti itu saya melihat seekor bangkai unta di pinggir jalan.Saya berpikir dari pada adik adik saya mati kelaparan maka saya ambil sebongkah daging bangkai itu dan itulah yang sekarang sedang saya masak, paman tentu tahu bagaimana hukumnya memakan daging bangkai, tapi bagi kami ini adalah makanan yang halal.”

Saat itu juga wadah yang saya bawa terjatuh, saya sungguh terkejut mendengar penderitaan gadis itu. Saya masuk ke rumah dan badan saya menggeletar menyaksikan dua anak kecil yang sedang memakan daging bangkai unta.
Saya peluk mereka dengan jiwa penuh penyesalan dan dosa. Saya tengadahkan wajah ke langit dengan mata tertutup seraya berkata, “ Ya Allah, sungguh zalim aku ya Allah. Tiga anak yatim piatu bertetangga dengan ku tapi aku tidak pernah memperdulikan nasib mereka.
Saat itu juga saya berlari pulang, saya kumpulkan pundi pundi uang yang tadinya akan saya gunakan untuk berhaji. Saya bergegas pergi ke sebuah kedai untuk membeli sekarung gandum, kemudian saya pikul sendiri gandum itu menuju rumah anak anak yatim itu. Sesampainya disana saya serahkan gandum dan pundi pundi uang kepada tiga anak yatim itu seraya berkata kepada Allah, “ Allahumma, Hadza hajji, Allahumma, huna hajji”..( Ya Allah, inilah hajiku. Ya Allah, disinilah hajiku)..

Dikutip dari buku My Dad My Pious Dad (Ayahku, Ayah yang shaleh )
Karangan Arsyl Ibrahim..
Semoga bermanfaat dan semoga Allah SWT memberi limpahan rahmat bagi pengarangnya dan bagi kita semua, Amien…

Oleh: baituzzakat | Juli 10, 2009

MENEMPUH JALAN QANAAH

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di muka bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya …” (QS 011/Huud: 6)

Demikianlah jaminan Allah terhadap seluruh makhluk-Nya. Bagi orang yang beriman, ayat ini bukan hanya menumbuhkan perasaan TENANG di dalam hati – karena yakin akan janji Allah –, tapi juga akan melahirkan sifat QANA’AH dalam dirinya, yakni merasa cukup dengan karunia Allah. Ia akan takut untuk merasa kekurangan, karena dengan begitu berarti ia telah melupakan karunia Rabb-nya. Ia pun merasa malu untuk meminta kepada sesama, karena itu menunjukkan bahwa ia ragu terhadap janji Allah. Firman Allah SWT: “(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang yang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak… (QS 002/Al Baqarah: 273)

Namun, tidak semua orang berlaku seperti itu. Karena lemahnya keyakinan terhadap janji Allah, banyak orang yang selalu merasa kuatir akan kelangsungan hidupnya. Pada saat bersamaan, hawa nafsu pun terus beraksi, mendesak manusia hingga terjerumus ke dalam kemilau semu kehidupan dunia. Harta yang dimiliki masih saja kurang. Hidup pun terancam. Hari esok tampak begitu suram. Mereka mencoba melepaskan diri dari bayang-bayang ketakutan itu dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, meskipun harus mengorbankan kehormatan diri. Anehnya, makin diburu, dunia malah makin jauh dari genggaman. Kecukupan tak pernah tercapai, sebaliknya rasa tak puas makin menjadi-jadi. Karena memang begitulah sifat dunia; ibarat air laut, diminum malah menambah haus…! Demikian meruginya orang yang dibutakan oleh dunia. Ia meninggalkan yang pasti, dan mengejar-ngejar dunia yang semu dan sementara.

Nah, agar kita terhindar dari kerugian itu, maka tak ada jalan lain kecuali mulai membiasakan diri bersikap qana’ah. Diantaranya dengan membiasakan sikap-sikap berikut ini:

1. Tidak mengadukan kesusahan hidup kepada sesama manusia

    Allah SWT telah menciptakan manusia, lalu memilih yang terbaik dari mereka melalui mekanisme ujian. Tak ada seorang manusia pun yang lepas dari ujian hidup. Allah SWT Yang Mahatahu telah menyesuaikan berat atau ringannya ujian tersebut dengan kemampuan hamba-Nya. Dan datangnya ujian itu bisa jadi karena Allah “rindu” mendengar rintihan si hamba untuk memohon belas kasihan-Nya.

    Karenanya, tidak halal seorang manusia yang diuji dengan kesusahan, lalu mengadukan kesusahannya itu kepada sesama manusia. Apalagi jika hal itu ditujukan untuk menarik belas kasihan orang lain, dan akhirnya orang yang mendengarnya memberi sesuatu untuk menolongnya. Perbuatan ini sangat tidak pantas, karena hanya Allah-lah yang dapat memberi pertolongan, bukan manusia. Sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa tertimpa kemiskinan, kemudian ia mengadukannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak akan tertutupi. Tetapi, barangsiapa mengadukannya kepada Allah maka Allah segera memberikan rizki kepadanya, cepat atau lambat.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi, dia berkata: “Hadits Hasan”)

    Ada juga orang yang dengan fasih menceritakan kesusahannya kepada orang lain, dengan niat agar orang menganggapnya miskin, sehingga tidak ada yang meminta bantuan kepadanya. Sikap seperti ini tentu lebih tercela lagi, karena ia benar-benar telah mengingkari nikmat yang dikaruniakan Allah kepadanya.

    Seorang Qani’ (orang yang menerapkan sikap qana’ah) akan berusaha menyembunyikan kesusahan hidupnya, dan menjadikannya sebagai rahasia antara dirinya dengan Allah saja. Sebaliknya, jika ia mendapatkan kenikmatan, ia justru akan menceritakan dan membagikannya kepada orang lain; bukan karena sombong, melainkan karena syukurnya kepada Allah. Allah berfirman: “dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu siarkan.” (QS 093/Adh Dhuhaa: 11)

    2. Tidak mengemis kepada sesama manusia

      Mengemis adalah perbuatan yang tercela. Karena, seperti telah tersebut di atas, Allah telah menjamin rizki seluruh hamba-Nya. Jaminan tersebut harus diperoleh dengan cara yang benar, yaitu dengan ikhtiar secara optimal, dengan memanfaatkan seluruh potensi yang telah Allah berikan. Islam sama sekali tidak memandang baik orang yang melakukan metode “potong kompas” dalam menjemput rizki dengan mengemis. Bahkan, Rasulullah mengancam para pengemis dengan sabdanya: “Tidak henti­hentinya permintaan dilakukan oleh salah seorang kamu sehingga nanti dia akan bertemu Allah dalam keadaan tidak ada sepotong dagingpun di wajahnya.” (HR Bukhari – Muslim)

      Seorang qani’ tidak akan mau mengemis kepada sesama manusia, meski kesulitan hidup terus menderanya. Dia akan memelihara kehormatan dirinya dengan ikhtiar secara optimal, sementara hatinya yakin bahwa Allah telah menyediakan rizki untuknya di bawah cucuran keringatnya. Dan ia akan tetap bersyukur atas hasil ikhtiarnya, meski sedikit jumlahnya, karena di dalamnya terkandung keberkahan yang lebih berharga daripada segunung emas yang dihasilkan dari meminta-minta. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menjaminkan dirinya kepadaku untuk tidak meminta sesuatupun kepada sesama manusia maka aku menjamin surga untuknya.”  (HR Abu Daud dengan sanad shahih)

      3. Tidak membiasakan berutang dalam memenuhi kebutuhan hidup

        Berutang memang diperbolehkan dalam Islam, dan termasuk ke dalam sikap ta’awun (tolong menolong). Namun, membiasakan diri berutang tentu bukan sikap yang bijak. Apalagi jika tidak yakin bahwa dirinya mampu membayar utang tersebut.

        Di zaman ini, berutang tampaknya sudah menjadi tren atau gaya hidup. Orang berutang bukan lagi karena kebutuhan, tapi lebih untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya. “Biar tekor asal nyohor,” begitu mereka bilang.  Yang juga mengherankan, saat ini seseorang baru disebut kaya kalau banyak utangnya (baca: banyak kartu kreditnya). Dan para pemberi piutang pun lebih suka memberi utang kepada orang kaya yang berkelebihan daripada orang miskin yang hidupnya kesulitan. Sampai-sampai ada yang bilang bahwa orang kaya adalah orang yang “makin banyak utang, makin nyenyak tidurnya“. Aneh!

        Kondisi ini jelas bertentangan dengan prinsip hidup qanaah. Seorang qani’ tidak   perlu berutang hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, meski penghasilannya pas-pasan. Ia yakin, Allah memberi sesuai dengan kebutuhan, dan Allah tidak pernah salah dalam menilai kebutuhan manusia. Dengan keyakinan ini, ia akan hidup dengan sikap menengah, tidak boros yang membuatnya akan terus berutang, dan tidak pelit yang membuatnya tidak bermanfaat. Allah SWT berfirman: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS 025/Al Furqan: 67)

        Itulah beberapa sikap yang ditunjukkan oleh seorang qani’. Siapapun yang melakukannya maka ia akan memperoleh kebahagiaan yang hakiki. Jiwanya tenang, karena yakin kepada janji Allah; hidupnya tenteram, karena berada dalam jaminan Allah; Hatinya tidak pernah diam melainkan senantiasa berucap: Hasbiyallahu wani’mal wakiil, ni’mal maulaa wani’man nashiir…” (Cukuplah Allah untukku dan sebaik-baik yang mengurusi, sebaik-baik majikan, dan sebaik-baik penolong…)

        R. ISMAIL PRAWIRA KUSUMA S. Sos. I

        Karawang,  30  Juni 2009 M

        Oleh: baituzzakat | Juli 10, 2009

        TIMBANGAN ILAHIAH TENTANG KEMULIAAN

        Manusia adalah makhluk Allah yang sangat unik. Dia berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain; tumbuhan, hewan, jin, dan juga malaikat. Di satu sisi, manusia adalah makhluk bumi, karena tubuhnya tercipta dari tanah liat yang kering, sebagaimana firman Allah: “Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,” (QS 015/Al Hijr: 26). Tapi, dia juga makhluk langit, karena inti kehidupannya adalah ruh yang berasal langsung dari Allah, sebagaimana firman-Nya: “Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh-Ku…” (QS 015/Al Hijr: 29)

        Dengan tubuh yang tercipta dari tanah, manusia merasa nyaman dan pantas tinggal di muka bumi, demi menjalankan tugasnya sebagai khlifah (wakil) Allah. Dan dengan ruh di dalam dirinya, ia akan dapat menjaga kemuliaan kedudukanya sebagai makhluk langit, tidak terjerumus ke dalam rendahnya kehidupan duniawi.

        Namun, ada diantara manusia yang tak menyadari hal ini. Banyak dari manusia yang malah terperangkap dalam prinsip materialisme yang menggerakkan kehidupan duniawi. Materi (kebendaan) telah menjadi ukuran untuk menilai segala sesuatu, sementara ruh yang suci tidak lagi diikutsertakan dalam menimbang kehidupan, dan dalam menjalani pergaulan dengan sesama manusia.

        Lihatlah diri kita… Betapa bangganya ketika kita bisa duduk bersama seorang pejabat, tapi malu ketika berada di samping orang cacat… Betapa bergegasnya kita ketika diundang ke rumah orang kaya, tapi mengabaikan saja ketika si miskin yang mengundang … Kita pun merasa mulia dengan harta yang kita miliki, tapi tidak merasa hina ketika akhlaq jauh dari terpuji… Itulah jebakan materialisme!

        Sebagai seorang muslim, kita tak pantas melakukan itu. Islam telah menetapkan prinsip pergaulan yang lebih bermartabat dan lebih tinggi nilainya daripada timbangan kebendaan yang rendah.

        Konsep Al Qur’an tentang kemuliaan manusia

        “… Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa…” (QS 049/Al Hujuraat: 13)

        Inilah prinsip utama dalam menimbang kemuliaan manusia. Inilah satu-satunya nilai dan tolok ukur untuk menilai dan mengukur bermartabat atau tidaknya seorang manusia. Prinsip ini membebaskan manusia dari perangkap materalisme yang rendah menuju timbangan Ilahiah yang hakiki dan tinggi.

        Orang yang paling bertakwa di sisi Allah ialah orang yang berhak mendapatkan penghormatan, perlindungan, dan perhatian, meskipun ia lepas dari semua pertimbangan dan pemikiran lain, yang dikenal manusia di bawah tekanan realitas duniawi, dan norma-norma yang mereka sepakati. Nasab (keturunan), kekuatan, harta, dan semua tata nilai lainnya tidak ada bobotnya apabila lepas dari iman dan takwa.

        Peringatan untuk Rasulullah

        Prinsip ini begitu penting dalam Islam, bahkan menjadi puncak dari semua ajaran Allah tentang tata nilai kehidupan manusia. Jika tidak, tak mungkin Allah menegur Rasul-Nya yang mulia dengan sangat keras, ketika datang kepadanya seorang tunanetra (Abdullah ibn Ummi Maktum), lalu Rasulullah mengabaikannya karena sedang berbicara dengan para pembesar Quraisy. Firman Allah: “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang tunanetra kepadanya. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padalaal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut (kepada Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan (demikian)!Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan…” (QS 080/’Abasa: 1-12)

        Dimanakah Rasulullah berada saat itu? Bagaimana keadaannya? Di Mekah, Beliau tengah melakukan dakwah dengan mengendap-endap, jumlah kaum muslimin minoritas, dan Islam belum lagi diterima dengan baik oleh penduduk Mekah. Sementara, tindakan Rasulullah melayani pembesar-pembesar Quraisy itu tidaklah didorong oleh kepentingan pribadi, dan sikap tidak menghiraukan lelaki tunanetra yang fakir itu pun tidak dimotivasi oleh pertimbangan pribadi, melainkan untuk kepentingan dakwah… Tapi, Allah tetap menegurnya…

        Rupanya Allah ingin menegaskan  bahwa agama ini adalah milik Allah, aturan hidup ini adalah bersumber dari Allah. Karenanya, Islam tidak boleh didakwahkan dengan mengikuti pertimbangan manusia, tapi ia justru datang untuk menetapkan timbangan dan nilai Ilahiah yang hakiki di dalam kehidupan manusia. Maka, ia tidak akan menjadi kokoh dan kuat, serta memperoleh kemenangan kecuali dengan ditetapkannya timbangan dan nilai-nilai ini.

        Kembali ke timbangan Ilahiah

        Peringatan itu benar-benar ditujukan kepada Rasulullah yang mulia. Dan karena kemuliaannya, tak mungkin peringatan itu remeh nilainya. Itu pasti sesuatu yang sangat agung, yang merupakan hakikat dari risalah yang diembankan  kepadanya.

        Hakikat ini bukan semata-mata bagaimana seseorang bermuamalah dengan orang lain, atau bagaimana sekelompok orang bergaul dengan kelompok lain, sebagaimana tampak dari peristiwa yang menjadi sebab turunnya wahyu tersebut. Akan tetapi, hal itu benar-benar lebih jauh dan lebih besar. Hakikatnya ialah bagaimana manusia menimbang semua urusan kehidupan, dan dari sumber mana mereka mengembangkan dan menentukan nilai-nilai yang mereka pergunakan untuk melakukan pertimbangan itu. Hakikat yang menjadi sasaran penetapan ini ialah manusia di bumi harus mengembangkan tata nilai dan tata norma mereka dengan semata-mata ber­pedoman pada kalimat Ilahi dari langit (wahyu), tidak terperangkap oleh realitas kebendaan yang melingkungi mereka, dan tidak bersumber dari pemikiranpemikiran mereka yang sudah terikat dengan tempat hidup mereka.

        “… Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa…”, bukan yang paling kaya, paling berpangkat, paling kuat, paling tampan, dan timbangan-timbangan duniawi lainnya.

        Melepaskan diri dari timbangan-timbangan duniawi, untuk kemudian kembali kepada rimbangan Ilahiah, tak pelak lagi merupakan keniscayaan jika manusia ingin mencapai kemuliaan di hadapan Allah. Hal ini memang sangat berat dan sulit, karena selama ini manusia sudah terbiasa dengan pandangan-pandangan materalistis, yang bahkan telah ditetapkan sebagai norma-norma, tradisi, budaya, bahkan hukum positif yang mereka buat atas nama kemanusiaan. Namun, harus kita ingat bahwa semua itu hanyalah bersifat sementara… “Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. dan Sesungguhnya Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 016/An Nahl: 96)

        R. ISMAIL PRAWIRA KUSUMA S. Sos. I

        Karawang,  15 Juni 2009 M

        Oleh: baituzzakat | Juni 11, 2009

        Dirikanlah Shalat!

        Setiap kewajiban yang telah dibebankan Islam kepada umatnya senantiasa memuat hikmah dan maslahat bagi mereka. Islam menginginkan terbentuknya akhlak Islami dalam diri Muslim ketika ia mengimplementasikan setiap ibadah yang telah digariskan oleh Allah swt. dalam Kitab dan Sunnah rasul-Nya. Pada akhirnya nilai-nilai keagungan Islam senantiasa mewarnai ruang kehidupan Muslim. Tidak hanya terbatas pada ruang kepribadian individu Muslim, namun nilai-nilai itu dapat ditemukan pula dalam ruang kehidupan keluarga dan komunitas masyarakat Muslim.

        Kita bisa merenungkan kembali ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan hal ini, sebagaimana salah satu firman-Nya:

        “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

        Melalui ibadah puasa, Allah swt. menginginkan terbentuknya pribadi-pribadi Muslim yang bertakwa. Pribadi yang tidak pernah mengenal slogan hidup kecuali slogan yang agung ini yaitu: sami’naa wa atha’na. Pribadi yang senantiasa melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya dalam situasi dan kondisi apapun. Oleh karenanya, Rasulullah Muhammad saw. telah bersabda:

        “Takutlah kamu kepada Allah di manapun kamu berada, ikuti keburukan (sayyiah) dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya. Dan pergauli manusia dengan akhlak yang baik.”

        Dalam sabda beliau yang lain:

        “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa faridlah (kewajiban), maka jangan sekali-kali kamu menyia-nyiakannya. Dia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan sekali-kali kamu melampui batas. Dia telah mengharamkan banyak hal, maka jangan sekali-kali melanggarnya….”

        Tentang zakat Allah swt berfirman:

        “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103)

        Dengan ibadah zakat, Islam mengharapkan tumbuh subur sifat-sifat kebaikan dalam jiwa seorang Muslim dan mampu memberangus kekikiran dan cinta yang berlebihan kepada harta benda.

        Begitu juga ibadah shalat yakni ibadah yang jika seorang hamba melaksanakan dengan memelihara syarat-syarat, rukun-rukun, wajibat, adab-adab, dan kekhusyu’an di dalamnya, niscaya ibadah ini akan menjauhkannya dari perbuatan keji dan kemunkaran. Sebaliknya, ibadah ini akan mendekatkan seorang hamba yang melaksanakannya dengan sebenarnya kepada Sang Khalik dan mendekatkannya kepada kebaikan-kebaikan serta cahaya hidup.

        Perhatikan ayat berikut ini:

        “Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ankabut: 45)

        Muslim yang selalu menunaikan ibadah ini akan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kebaikan dan mampu menjadi cahaya di tengah-tengah masyarakatnya. Muslim yang memiliki hamasah -semangat- yang menggelora dalam memperjuangkan kebenaran dan memberangus nilai-nilai kemunkaran, kelaliman, dan perbuatan keji lainnya. Hatinya terasa tersayat di saat menyaksikan pornografi dan porno aksi mewabah di tengah-tengah masyarakatnya. Jiwanya akan terus gelisah ketika melihat kelaliman yang dipermainkan para budak kekuasaan. Memang, ia harus menjadi cahaya yang berjalan di tengah-tengah kegelapan zaman ini.

        Allah berfirman:

        “Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 122)

        Ibadah shalat adalah awal kewajiban yang diperintahkan Allah swt. kepada umat ini pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Ibadah yang merupakan simbol dan tiang agama. Rasulullah saw. bersabda:

        “Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (H.R. Muslim)

        Ibadah yang dijadikan Allah sebagai barometer hisab amal hamba-hamba-Nya di akhirat, “Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (H.R. At-Thabrani)

        Ibadah shalat merupakan wasiat Nabi yang terakhir kepada umat ini dan yang paling terakhir dari urwatul islam (ikatan Islam) yang akan dihapus oleh Allah swt.

        Selain itu, shalat juga penyejuk mata, waktu rehatnya sang jiwa, saat kebahagiaan hati, kedamaian jiwa dan merupakan media komunikasi antara hamba dan Rabbnya.

        Ibadah yang memiliki kedudukan atau manzilah yang agung ini tidak akan hadir maknanya dalam kehidupan kita, tatkala kita lalai menjaga arkan, wajibat dan sunah-sunnahnya yang inheren dengan ibadah ini. Tatkala kita tidak mampu menghadirkan hati, merajut benang kekhusukan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah ini, maka kita tidak akan mampu menangkap untaian makna yang terkandung di dalamnya. Kita tidak akan mampu memahami sinyal-sinyal rahasia yang ada di balik ibadah ini.

        Tidakkah banyak di antara manusia Muslim yang ahli ibadah namun masih jauh dari nilai-nilai Islam. Ahli shalat, namun masih suka melakukan kemaksiatan. Hal ini disebabkan nilai-nilai agung yang terkandung dalam ibadah sama sekali tidak mampu memberikan pesan-pesan Ilahiah di luar shalat. Takbir yang dikumandangkan di saat beribadah tidak mampu melahirkan keagungan di luar shalat. Do’a iftitah “Inna shalaatii wa nusukii….” yang dilafazkan dalam shalat tidak mampu mengingatkan tujuan hidupnya. Ibadah ini seolah-olah hanya menjadi gerakan-gerakan ritual yang maknanya tidak pernah membumi dalam kehidupan orang yang melaksanakannya.

        Oleh karena itu, ibadah shalat yang mampu melahirkan hikmah pencegahan dari perbuatan keji dan kemungkaran, hikmah pensucian jiwa dan ketentraman, apabila dilakukan dengan penuh kekhusyukan, mentadabburkan gerakan dan ucapan yang terkandung di dalamnya, penuh ketenangan dan dengan tafakkur yang sesungguhnya. Maka ia akan keluar dari ibadah dengan merasakan kenikmatannya, terwarnai dengan nilai-nilai keta’atan dan mendapatkan cahaya ma’rifatullah. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak seorangpun yang melaksanakan shalat maktubah (fardlu), lalu ia memperbaiki wudlunya, khusyuknya dan rukuknya kecuali shalat ini akan menjadi pelebur dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar. Dan ini berlaku sepanjang tahun.” (H.R. Muslim)

        Inilah yang pernah dilakukan oleh salafusshalih termasuk di dalamnya Ibnu Zubair ra. Mereka laksana tiang yang berdiri tegak karena kekhusyukannya. Mereka terbius dengan kerinduannya akan Rabbnya dan mereka asyik berkomunikasi dengan Sang Khalik tanpa terganggu dengan suara makhluk-Nya.

        Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di saat melaksanakan ibadah shalat agar hikmah di dalamnya selalu terjaga:

        Pertama, menjaga arkan, wajibat dan sunah. Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.”

        Kedua, ikhlas, khusyuk dan menghadirkan hati. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah:5)

        Ketiga, memahami dan mentadabburi ayat, doa dan makna shalat. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Al-Maa’uun: :4-5)

        Keempat, mengagungkan Allah swt. dan merasakan haibatullah. Rasulullah saw. bersabda: “…Kamu mengabdi kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka (yakinlah) bahwasanya Allah melihat kamu…” (H.R. Muslim)

        Semoga kita semua mampu merenungkan kembali arti shalat dalam kehidupan keseharian dan berusaha terus-menerus untuk memperbaikinya agar kita benar-benar mi’raj kepada Allah swt. Wallahu A’lam Bish-shawwab ( http://www.dakwatuna.com )

        Oleh: baituzzakat | Mei 18, 2009

        JANGAN MENUNDA BERZAKAT

        Menunda-nunda, tak pelak lagi merupakan salah satu sifat buruk yang banyak menghinggapi manusia. Kaum muslimin pun ternyata tak kebal dari virus ini, padahal Allah SWT telah berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS 003/Ali Imran: 133) Banyak dari kita yang masih suka menunda-nunda kewajiban agama, seperti mengeluarkan zakat, meski semua syarat wajibnya, yakni nishab dan haul, telah terpenuhi. Dalam zakat profesi misalnya, jarang sekali seseorang yang penghasilannya telah mencapai nishab langsung menyisihkan 2,5% dari penghasilannya begitu mereka terima. Mereka biasanya langsung membawa uang tersebut ke pasar atau ke mal, membeli ini dan itu – yang terkadang tak terlalu penting –, sementara zakat — yang merupakan hak Allah – mereka taruh entah nomor berapa. Tak disangsikan lagi bahwa sikap menunda-nunda adalah sikap yang merusak. Berapa banyak kebaikan yang seharusnya terjadi di tengah masyarakat terhambat karena sikap ini. Berapa banyak keberkahan yang semestinya diperleh akhirnya luput karenanya. Dan, bisa dipastikan bahwa sikap ini muncul karena si pelakunya menganggap tidak penting, atau bahkan meremehkan, perintah Allah. Bukan tidak mungkin pada stadium lanjut orang seperti ini akan berani meninggalkan sama sekali kewajiban tersebut. Oleh karena itu, sikap ini mutlak harus ditinggalkan sebelum bertambah parah. Dan bagi mereka yang masih suka menunda-nunda zakat, maka pikirkanlah beberapa hal berikut ini: Pertama : Pikirkanlah, bagaimana jika Allah SWT memanggil kita sementara kita belum berzakat? “Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati…” (QS 031/Luqman: 34) “Dimana pun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu…” (QS 004/An Nisaa: 78) Kematian adalah rahasia Allah. Dia pasti akan datang, namun kita tidak pernah tahu kapan, dimana, dan dalam keadaan seperti apa hal itu terjadi. Seorang bijak pernah berkata bahwa kematian itu seperti buah kelapa; baik yang masih muda maupun yang sudah tua, semuanya bisa jatuh dari tempatnya. Kita hanya diperintahkan untuk bersiap diri menghadapinya. Kematian tidak akan menakutkan, bahkan akan menjadi momen yang sangat menyenangkan ketika kita sudah memiliki bekal amal soleh yang cukup. Hak-hak Allah sudah kita tunaikan, dan tak ada pula hak-hak Adami yang masih mengikat kita. Tapi, alangkah ruginya kita ketika malaikat maut hadir sementara masih ada harta yang belum dizakati, atau kewajiban-kewajiban lain yang belum dipenuhi. Tak ada waktu lagi untuk berkelit. Pintu taubat pun sudah tertutup. Kita hanya bisa menanti sampai tiba saat kita mempertanggungjawabkan semua amal di hadapan Allah. Dan pastinya, penantian seperti itu bukanlah penantian yang menyenangkan. Firman Allah: “… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, Maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, Maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS 009/At Taubah: 34-35) Sungguh mengerikan ancaman Allah itu! Oleh karena itu, tak ada jalan lain untuk menghindarinya kecuali dengan bersegera melaksanakan perintah-Nya dan tidak menunda-nunda lagi. Segeralah tunaikan zakat saat ini juga, karena kita tidak pernah menyangka mungkin setelah membaca risalah ini malaikat maut akan datang menjemput kita… Kedua: Pikirkanlah, bagaimana jika Allah SWT menunda-nunda memberi rizki kepada kita? Bayangkan, bagaimana jika saat ini Allah menunda (baca: menahan) napas kita, atau denyut jantung kita, atau menyumbat paru-paru kita? Oksigen akan terhenti, pembuluh darah akan membeku, dan akibatnya… Atau, bayangkan hal yang lebih reme dari itu. Bayangkan, bagaimana jika Allah menahan kelopak mata kita sehingga tidak bisa berkedip, atau menyumbat saluran pembuangan kita hingga (maaf) tidak bisa buang angin? Atau, bayangkanlah hal yang lebih riil. Bagaimana jika gaji bulanan tidak turun tepat waktu? Atau piutang yang jatuh tempo tidak juga dibayar? Semua itu tentu tidak menyenangkan. Siapapun yang mengalaminya pasti akan merasa tersiksa. Nah, demikian pulalah nasib fakir miskin yang rizkinya Allah titipkan dalam harta kita. Mereka pun akan terhimpit dalam kesulitan. Dapur mereka tidak akan “ngebul”, anak-anak mereka tidak bisa bersekolah, dan boleh jadi mereka akan tertimpa kelaparan. Padahal sebenarnya rizki mereka telah Allah berikan, yakni dalam kelebihan yang dititipkan kepada kita. Artinya, kitalah – sebagai distributor rizki Allah – bertanggung jawab atas kehidupan fakir miskin itu. Kelangsungan hidup mereka telah Allah amanatkan kepada kita. Dan jika kita menunda-nundanya, atau melalaikannya, maka itulah kejahatan kemanusiaan yang sebenarnya. Sungguh, Allah tidak pernah menahan menunda-nunda rizki kita. Dan karenanya, kita pun tidak boleh menunda-munda rizki orang lain yang Allah titipkan kepada kita. Ketiga: Pikirkanlah, bagaimana jika kita ditawari sebuah lahan investasi yang sangat prospektif, lalu kita menunda-nunda ikut menanamkan modal di dalamnya? Jawabannya jelas, kita akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Boleh jadi kita sudah diserobot oleh orang lain yang lebih mampu melihat peluang itu. Kalaupun akhirnya kita bisa ikut serta, maka keuntungannya tidak terlalu besar, karena telah dihabiskan oleh para pemodal pertama. Nah, itu baru investasi dunia. Lalu, bagaimana dengan zakat yang merupakan investasi akhirat? Tidakkah kita lebih tergiur oleh keuntungannya yang jauh lebih besar sebagaimana yang Allah janjikan: “perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji…” (QS 002/Al Baqarah: 261) Subhanallah…tak ada investasi yang keuntungannya mencapai 700 kali lipat (7, 000 %). Tapi, ini pun ternyata belum seberapa sebagaimana Allah melanjutkan firman-Nya: “… Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.” (QS 002/Al Baqarah: 261) Demikian keuntungan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang bersegera berinfaq di jalan Allah. Keuntungan yang menggiurkan. Nah, dengan semua ini, masihkah kita tergoda untuk menunda-nuda zakat?

        Oleh: baituzzakat | Mei 11, 2009

        Bea Siswa

        Dibuka kesempatan untuk Beasiswa Pendidikan Sekolah Gratis tingkat SMP hingga 100%, untuk siswa dhuafa berprestasi atau yang memiliki semangat belajar yang tinggi, dengan ketentuan :
        1. Lulus test Tulis yang dilaksanakan 31 Mei 2009
        2. Bersedia mengikuti program pembinaan dan pembekan skill dari Baituzzakat And-Dzikro

        Keterangan lebih lanjut hubungi (0267-8454356 –> Bpk. Agus Hermawan)

        Older Posts »

        Kategori